budiono strategic performance management

Talkshow SS: Partisipasi Publik dalam Pemilukada Surabaya

05.22.2010 · Posted in agenda

Kamis (20/05) kemarin saya mendapatkan undangan dari Suara Surabaya untuk menjadi nara sumber dalam talkshow “Surabaya Memilih”. Temanya tentang partisipasi publik dalam pemilukada Surabaya 2010. Dalam talkshow tersebut yang dipandu Laga Rahman tersebut saya berdampingan dengan Pak Hariadi pengamat politik dari FISIP Unair.

MenurutĀ Pak Hariadi tingkat partisipasi warga kota dalam Pemilukada Surabaya 2010 ini diperkirakan hanya 60%. Angka tersebut diperoleh dari penelitian 2,5 bulan terakhir dan diperkuat dengan pengalaman dalam pemilu gubernur dimana angka golput mencapai 60%. Sedangkan dalam pemilu presiden yang golput mencapai 50%.

Sebuah penelitian mengungkap bahwa yang paling besar jumlah golputnya adalah kalangan mahasiswa dan profesional, atau yang disebut dengan istilah golongan critical. Saya kebagian menjelaskan fenomena yang terjadi di kalangan critical tersebut. Mengapa tingkat partisipasinya rendah, lalu bagaimana cara untuk meningkatkan angka partisipasi tersebut.

Sebelum berangkat ke SS, siangnya saya melakukan deep interview dengan beberapa mahasiswa dan profesional muda. Yang saya tanyakan seputar tentang sikap mereka dalam pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih Walikota dan Wakil Walikota baru itu. Selain itu, untuk memotret kondisi aktual, saya juga melakukan survey secara online melibatkan 100 responden yang saya pilih secara acak melalui situs jejaring sosial facebook.

Ternyata tingkat partisipasi kalangan critical memang sangat rendah. Semua responden tahu bahwa di Surabaya akan ada Pemilukada. Bahkan tanggalnya juga sudah tahu, yaitu Rabu 2 Juni 2010. Untuk nama-nama calon memang tidak semuanya tahu. Tetapi lebih dari separuh responden menyatakan tidak akan menghadiri TPS untuk mencoblos!

Mengapa tidak mencoblos? Alasan yang dikemukakan responden beragam, tetapi sebagian besar mengarah pada keyakinan bahwa siapapun Walikota yang terpilih tidak akan memberikan keuntungan apapun kepada mereka. Kondisi Surabaya akan sama saja seperti sebelum-sebelumnya.

Tetapi tidak semua temuan saya tersebut berhasil tersampaikan dalam talkshow di SS malam itu. Waktu 60 menit terasa begitu cepat, apalagi dipotong oleh siaran iklan yang memakan hampir separuh waktu talkshow. Praktis saya dan Pak Hariadi hanya membahas hal-hal yang umum, tidak bisa mendalam.

Oia, salah satu pertanyaan Laga adalah bagaimana caranya meningkatkan partisipasi kalangan critical tersebut? Jawaban yang saya berikan adalah gunakan media yang relevan dengan gaya hidup kalangan critical. Misalnya saja social media campaign yang diracik secara pas. Jika hanya menggunakan media konvensional maka kecil kemungkinan mereka akan tertarik dengan Pemilukada.

Selain tugas KPU untuk melakukan sosialisasi, para kandidat juga harus terjun langsung mendekat ke pemilik suara dari kalangan critical yang jumlahnya cukup signifikan ini. Selain itu kalangan bisnis juga bisa dilibatkan dalam meningkatkan partisipasi publik. Misalnya dengan memberikan diskon khusus bagi yang bisa menunjukkan jari hitam bekas dicelupkan ke tinta pemilukada. Seperti yang dilakukan oleh StarBucks dalam Pemilu presiden lalu ;)

Bagaimanapun, suara satu orang bisa menentukan arah pembangunan Surabaya. Oleh karena itu bagi warga kota Pahlawan ini saya himbau untuk tidak golput. Datangilah TPS pada tanggal 2 Juni 2010 dan cobloslah salah satu calon yang paling pas dengan selera Anda!

9 Responses to “Talkshow SS: Partisipasi Publik dalam Pemilukada Surabaya”

  1. Pertamaxxxxxxxx

    wala aq wingi g melok eman rek..!!

  2. wu pasti seruh

  3. waduh, saya juga selalu Golput kalo pasa ada beginian, lha bingung karepe dhewe… salam kenal cak Bud… :D

  4. Yang diwawancara sudah benar dicek warga Surabaya? Karena golongan critical itu kebanyakan juga perantau dan tidak memiliki KTP lokal Surabaya. Seperti saya waktu mengamati proses Pilkada DKI Jakarta.

  5. banyak faktor yang menyebabkan tingkat partisipasi kaum muda dalam pilkada begitu rendah. fenomena itu hampir terjadi di berbagai daerah, mas dion. bisa jadi, selain sudah apatis dg perilaku politik para pejabat yang selama ini muncul ke permukaan, juga banyaknya calon pemilih yang ndak mengenal para calon dengan jelas.

  6. ya ya, anak muda sekarang memang agak susah kalau di suruh nyoblos ,,,

  7. masalahnya,,kaum muda dan terdidik sudah muak ma jani2 manis calon wakil rakyat,,jadi mereka golput

  8. banyak faktor yang menyebabkan tingkat partisipasi kaum muda dalam pilkada begitu rendah. fenomena itu hampir terjadi di berbagai daerah, mas dion. bisa jadi, selain sudah apatis dg perilaku politik para pejabat yang selama ini muncul ke permukaan, juga banyaknya calon pemilih yang ndak mengenal para calon dengan jelas.

  9. Bro, selain dr faktor pemilih, faktor kandidiat juga berpengaruh…
    mindset mereka masih konservatif, melihat kuantitas konstituen bukannya kualitas.
    secara kuantitas, konstituen kita masih dari grass root, bukan critical. Maintain-nya pun ya a la grass root…mobilisasi massa d lapangan, hiburan musik, datangkan artis n bagi2 sembako. Kalo katanya Hirarki kebutuhan Maslow, Basic need-nya yang dipenuhi, jadi terkesan jadi “pesta rakyat”. Jaaauuuuh….dari yg namanya “pesta demokrasi”
    Sdangkan kalangan critical, mereka butuh pemenuhan self-esteem need, diajak diskusi, pembuatan kontrak politik n menumbuhkan belongingness. Seperti kampanye Obama saat pencalonan diri jadi presiden AS by facebook secara personal dari BB n mengelola pendukung sukarelawan (yg bener2 suka Obama as a personal dan rela gk dibayar).

    Lalu kalo pendekatan lewat grass root seumpama kalo jualan, pake sistem beli-putus, makanya rentan money politic…gak peduli kenal sama kandidat, “pokoke nyoblos sing mbayari paling gede.” Kandidat gak perlu nunjukin kapabilitasnya n kontribusinya sama pemilih. Berlawanan sama pendekatan golongan critical n bisnis yg lebih suka long-term commitment / relationship.

    Padahal, jika diamati lebih jauh, ada keuntungan besar yg dapat diambil para kandidiat saat dia dapat maintain golongan critical n bisnis. Secara status sosial ekonomi, tentunya mreka punya “power” untuk menggerakkan grass root mengikuti mereka selaku atasan atw juragan. Sehingga golongan ini akan menjadi c0-marketer kampanye bagi para kandidat, biaya lebih murah tp butuh integritas tinggi untuk meyakinkan mereka dalam waktu lama. kalo om rhenald kasali bilang, intangible aset.
    hehehe….maap gan kalo bahasanya gk teratur n trstruktur dngn baik, cuman brusaha blajar analisa yg sdikit menghibur….
    mohon d rate bintang lima, kalo yng udah ISO, mohon ijo2, insyaallah bukan repost, jd jngan ditimpuk bata ya gan….
    *kakean ngaskus iki bro…

Leave a Reply