Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran

Sebagai konsumen media televisi (hampir setiap hari) dan radio (sesekali), saya merasa jengah dengan isi siaran yang makin hari makin tidak berbobot. Tidak hanya sinetron, siaran berita juga semakin hari semakin jauh dari bisa disebut berkualitas dan akurat.

Siaran berupa berita sering terasa tidak imbang, apalagi jika itu terkait politik dan pemerintahan. Misalnya saja berita tentang hasil survei politik, kasus yang menjerat politisi, dan sebagainya.

Terkait terorisme, sering pula ada berita yang mendiskreditkan ciri fisik tertentu, misalnya ada kalimat: “terduga tampak seperti warga biasa, tidak berjanggut dan memakai gamis”.

Kemudian sering ditayangkan adegan nara sumber yang menghindar dari wartawan namun tetap dikejar dan berusaha ditampilkan wajahnya. Misalnya pada pemberitaan soal wanita-wanita yang dikait-kaitkan dengan seorang terduga pelaku tindak pidana pencucian uang.

Kalau siaran berupa sinetron, kita sudah tahu sendiri bagaimana sinetron-sinetron itu berlomba menampilkan gaya hidup perkotaan yang serba mewah, disertai dengan konflik-konflik yang diselesaikan dengan ‘menghalalkan segala cara’.

PPP SPSSaya penasaran, apakah tidak ada aturan yang mengatur soal penyiaran ini. Ternyata Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sudah mengeluarkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (PPP-SPS) yang mestinya dijadikan pedoman lembaga penyiaran.

Di dalam PPP-SPS sudah diatur banyak hal, yang jika dipatuhi semua maka Insya Allah tayangan tv dan siaran radio kita jauh lebih berkualitas dibandingkan yang kita saksikan saat ini. Meskipun jika mau lebih teliti, masih banyak hal yang belum dicantumkan di dalam PPP-SPS tersebut.

Kita sebagai konsumen media, menurut saya, perlu untuk membaca PPP-SPS tersebut. Jika mendapati isi siaran yang bertentangan, bisa langsung kita laporkan ke KPI atau KPID terdekat, dengan harapan kita akan mendapatkan isi siaran yang lebih berkualitas di masa mendatang :)

Silakan download langsung PPP-SPS dari website KPI atau jika linknya sudah tidak bisa, silakan download kopinya yang sudah saya unggah ke Google Drive ini: PPP-SPS di Google Drive.

4 thoughts on “Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran

  1. Masdin

    Semestinya memang, tidak semua berita pantas untuk ditayangkan di televisi, sekalipun bertanya heboh. Menurut saya misalnya, berita tentang orang yang mencabuli anak kandung sendiri, berita seperti ini seharusnya tidak muncul di media mainstream karena apa… jika sudah terlalu sering, akhirnya dianggap biasa, dan melakukan hal itupun mungkin juga sudah dianggap biasa…. astaghfirullaahh…
    Salam kenal :)

    1. budiono Post author

      Setuju bro. peran serta masyarakat mestinya bisa ditingkatkan. kalo menemukan materi yang gak bagus bisa dilaporkan dan harus diproses oleh media bersangkutan

  2. ndop

    AKu cuma ndelok tipi cenel metrotipi kang. Walopun katanya metrotipih ada kecenderungan keberpihakan ke orang tertentu, tapi at least gak lebay kayak lainnya hahaha..

    1. budiono Post author

      sekaranga banyak banget tayangan gak mendidik ndop. hampir rata di semua TV. nonton tv malah bikin stress dan capek, harusnya kan terhibur hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− seven = 2

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>